Pertanian Tidak Jadi Kekuatan Bangsa

Posted October 17, 2009

Benarkah seperti itu?????

Sebuah pertanyaan yang sulit untuk di jawab sepertinya.

tetapi memang seperti itu kenyataannya,Indonesia yang dulu di kenal sebagai Negara Agraris terbesar di Wilayah Asia dan pengeksport beras terbesar pula di Asia,tetapi sekarang keadaannya sungguh terbalik 180% yang tadinya adalah Negara pengEksport sekarang malah jadi Negara Peng import terbesar.

Kok bisa kebalik gitu y???

Seorang pengusaha Indonesia pernah mempunyai kredit kepada perusahaan Jepang. Untuk menyelesaikan kreditnya, pengusaha Indonesia itu menawarkan dua aset berharga yang ia miliki. Satu industri petrokimia dan satu lagi hutan tanaman industri beserta pabrik pulpnya.

Kita pasti menduga, perusahaan Jepang itu akan memilih industri petrokimia karena lebih modern. Namun di luar dugaan perusahaan Jepang itu justru memilih hutan tanaman industri beserta pabrik pulpnya.

Mengapa pilihannya industri yang tradisional, bukan industri yang modern? Karena perusahaan Jepang itu tahu bahwa kalau mereka miliki industri berbasis hutan, maka akan bersifat jangka panjang karena itu bisnis berbasis sumber daya alam yang terbarukan. Sementara industri petrokimia memang kelihatan modern, tetapi sumber bahan bakunya tidak bisa terbarukan.

Untuk industri dengan sumber daya yang terbarukan, Indonesia merupakan tempat yang paling tepat untuk berinvestasi. Bukan hanya lahan yang luas, tetapi iklim yang sangat mendukung. Hutan tanaman industri bisa dipanen setiap delapan tahun, sementara di negara subtropis butuh waktu puluhan tahun untuk bisa dibudidayakan.

Padahal yang namanya kebutuhan dari produk kayu tidak pernah ada habisnya. Orang membutuhkan produk dari kayu mulai untuk membangun rumah, membuat kain untuk pakaian, hingga kertas tulis, kertas pembungkus, dan kertas pembersih.

Pertanyaannya, apakah kita menyadari kekuatan yang kita miliki? Apakah kita menggunakan keunggulan itu untuk menjadi pemain utama di sektor tersebut?

Kita pernah menjadi raja di industri kayu lapis dunia. Kita merupakan salah satu jagoan di industri kertas dan bubur kertas. Sayang kita tidak cukup cerdas untuk mempertahankan keunggulan tersebut. Kita membiarkan kekuatan itu diobrak-abrik oleh negara lain, hanya karena negara-negara itu tidak mampu bersaing dengan kita.

Di masa Orde Baru, kantor pemasaran bersama kayu lapis yang dikoordinir Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo) memang membuat kita menjadi kekuatan utama dunia di industri ini. Apkindo membuat industri-industri di negara lain seperti Singapura, Jepang, Korea, dan China tidak mampu bersaing dan gulung tikar.

Menurut pengamat ekonomi Faisal Basri sebenarnya tidak ada yang salah dengan praktik bisnis seperti itu. Sebab, yang kita hadapi ketika itu adalah kartel pembeli yang bisa mengatur harga, sehingga sah saja apabila kita menghadapinya dengan kartel produsen.

Sayang kita terlalu tunduk kepada Dana Moneter Internasional (IMF). Kita mau saja ketika kantor pemasaran bersama itu dibubarkan. Akibatnya kita bukan hanya perang harga sendiri di dalam, tetapi kita membiarkan kembali diekspor dalam bentuk bahan baku tanpa ada nilai tambah.

Industri-industri yang dulu kalah bersaing dan gulung tikar kini bisa bangkit kembali. Bukan hanya sekadar bangkit, tetapi produk olahannya masuk kembali ke pasar kita. Sungguh menyesakkan!

Sepanjang 10 tahun terakhir, arah kebijakan bidang pertanian kita semakin tidak jelas. Kita tidak mencoba mengubah orientasi ekspor kita yang berbasis bahan mentah menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Bahkan yang lebih terasa Departemen Pertanian justru ikut berlomba-lomba membuka pasar impor, sehingga banjirlah produk-produk pertanian luar negeri ke Indonesia.

Impor buah-buahan ke Indonesia masuk dengan volume yang sangat besar. Daging dan produk daging dari negara yang terjangkit sapi gila pun diizinkan masuk. Bahkan impor tulang dan daging tulang pun dibuka oleh Departemen Pertanian.

Apa motif di balik semua ini? Kepentingan kelompok sudah pasti. Kepentingan untuk mendapatkan rente untuk kelompoknya. Sama sekali tidak dipikirkan bahwa kebijakan itu justru merugikan ekonomi nasional. Menghapuskan semua keunggulan yang kita miliki.

Untuk apa masalah ini kita angkat? Untuk memberi masukan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar dalam memilih para menteri khususnya untuk bidang pertanian, perindustrian, dan perdagangan, betul-betul dicermati orang memiliki wawasan untuk memajukan bangsa dan negara ini.

Jangan biarkan negeri ini hanya menjadi pasar dari produk-produk dunia. Tetapi sebaliknya justru harus menjadi pemain utama dunia yang memang seharusnya menjadi kekuatan kita.

Kita seharusnya menjadi jagoaan untuk dua bidang yakni pertanian dan energi. Mengapa? Karena itulah yang menjadi kekuatan utama kita. Kita negeri yang sangat kaya akan sumber daya alam dan memiliki orang-orang yang hidup di bidang itu.

Sekarang ini yang dibutuhkan tinggallah mengubah orientasi untuk mampu menjadikan setiap produk dari bidang itu mempunyai nilai tambah. Kita akan selalu merugikan kalau sekadar menjual produk yang tidak memiliki nilai tambah. Apalagi kalau orientasi pemimpin sekadar mau mudahnya, yakni beli saja tanpa mau mencoba menghasilkan.

Kita diingatkan bahwa sebuah bangsa akan musnah apabila tidak mampu memproduksi. Orientasi berproduksi itulah yang harus dimiliki dan bisa dikembangkan oleh anggota-anggota kabinet yang baru nanti.

Comments

There are no comments for this post.

No comments found

Add comment